Wednesday, March 24, 2010

Penderitaan dan Pengaruhnya

Penderitaan adalah sebuah keniscayaan, yang menimpa setiap mahluk hidup. Dengan demikian penderitaan menurut saya adalah sesautu yang harus diterima dan harus dinikmati sebagai sebuah konsekuensi hidup.
Kenikmatan, kebahagiaan tidak akan terasa tanpa pernah kita mengalami sebuah penderitaan.
persoalannya adalah bagaimana cara kita memandang dan memperlakukan penderitaan itu untuk kekuatan kita

Penyebab derita dapat dipandang dari berbagai sudut :

1. Orang menderita sebab harus menerima karmanya. Uraian ini berlandaskan pada ajaran agama atau hukum keseimbangan alam.
Pada umumnya hal ini dapat diterima oleh rata-rata manusia yang menganut agama.
Akan tetapi sebagian besar dari mereka ini juga menolak pandangan tersebut, jika mereka sendiri yang mengalami / menghadapi derita, sebab merasa diri sendiri sebagai orang yang tidak berdosa sekarat penderitaan itu.
2. Derita dialami oleh sebab firasat tidak tepat, tidak tajam sehingga mengambil langkah-langkah yang keliru. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kemurnian diri alias berdosa yang sedang harus mengalami perhitungannya.
Pandangan ini dinilai dengan suatu logika yang disusul dengan pedoman ajaran agama.
3. Derita bisa terundang oleh kurang mawas diri pada umumnya.
Hal ini bisa saja dalam hal ucapan / tindakan yang berasal dari pikiran yang tidak sempurna dipertimbangkan.
4. Pikiran tidak disempurnakan mungkin saja sebab nafsu / emosi.
5. Nafsu / emosi adalah hasil pengendalian dari kejiwaan / mental.
6. Nafsu / kejiwaan / mental bisa menganggu / mengurangi dewasa rasa sehingga hilang mawas diri.
7. Hilang mawas diri memperkecil / mengurangi kesadaran pada saat-saat tertentu, sehingga berbagai tingkat kedewasaan bisa kacau, tertutup atau "buta" pada saat-saat itu.

Alangkah baiknya jika diberi beberapa contoh sebagai berikut :
Seorang bisa keliru langkah / arah sebab dihinggapi oleh :
a. Gengsi tinggi
b. Tidak ingin ketinggalan sehingga berambisi / emosional / bernafsu.
c. Ikut campur tangan / berjuang mengejar sesuatu melebihi kemampuan dan kesanggupannya.
d. Akhirnya terlibat memikul akibat negatif.
e. Yang dicapai bukan kenikmatan tapi derita.
f. Gengsi / nafsu / mental / kejiwaan membutakannya sehingga lalai menggunakan dewasa otak / pikiran / rasa, tidak sabar mempertimbangkan alternatif yang bisa merugikan.

Pada uraian-uraian diatas dipandang derita-derita tercapai oleh kesalahan berpikir / melangkah.

Artinya lebih banyak dipandang dari sudut usaha / perjuangan / aktifitas ingin mencapai hasil tertentu.

Sebenarnya hal itu tidak terlepas dari firasat / feeling yang justru menentukan, menjadi pendorong menemui kegagalan atau keberhasilan.

Mari kita pandang tercapai / menghadapi derita dari arah lain.

Sesuai ajaran agama atau hukum keseimbangan alam :

Orang menderita sebab sudah saatnya menerima derita sebagai imbalan.

Dalam situasi dimana seseorang hanya berdiri / duduk / diam ditempat / berbaring / tidur, bisa saja tertimpa derita, sebab alam setempat turut aktif menciptakan derita bagi orang itu.

Misalnya pohon tumbang, cabang pohon / buah jatuh dan menimpa dirinya.

Dan masih banyak contoh-contoh lain yang dapat dikatakan "kebetulan".

Dalam hal demikian orang-orang cenderung berkata :
Tuhan yang mengambil tindakan, kutukan tuhan, putusan tuhan, kemauan tuhan.

Hal ini perlu pengupasan lebih jauh untuk menyadari bahwa dalam segala hal hukum keseimbangan alam (tuhan) yang menentukan dan bukan hanya dalam hal-hal yang disebutkan kebetulan.

Source : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081012204724AAUPAIj

No comments:

Post a Comment